Serang 27 Agustus 2025 – Di tengah rutinitas akademik yang padat, mahasiswa FKIP Untirta khususnya dari Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan menemukan ruang untuk bernapas, berekspresi, sekaligus merayakan kebersamaan. Ruang itu bernama Panggung Gembira, sebuah agenda pertunjukan yang digagas dan dikelola penuh semangat oleh Himpunan Mahasiswa Seni (HIMASENI).
Malam itu, halaman Laboratorium Seni Pendidikan Seni Pertunjukan FKIP bertransformasi menjadi ruang seni terbuka. Lampu-lampu sederhana yang dipasang mahasiswa, identitas musik dari berbagai jenis musik bertumpah ruah dan menggaung di telinga kami semua yang hadir, serta tepuk tangan riuh penonton membangun suasana yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menghidupkan kembali spirit kebersamaan di antara mahasiswa dan dosen. Setiap sorot mata yang hadir menyiratkan antusiasme: bahwa seni memang selalu memiliki metode sendiri untuk menyatukan keragaman.
Panggung Gembira bukanlah sekadar acara hiburan. Lebih dari itu, ia adalah upaya HIMASENI menjaga eksistensi panggung pertunjukan di lingkungan kampus. Di era digital yang serba cepat, kehadiran panggung langsung menjadi sangat berarti. Bagi mahasiswa Seni Pertunjukan, panggung adalah laboratorium hidup—tempat menguji nyali, mengekspresikan gagasan, dan menumbuhkan rasa percaya diri. Di sanalah proses belajar menemukan wujudnya dalam praktik nyata, bukan hanya dalam catatan kuliah.
Ragam penampilan hadir malam itu pada umumnya penampilan musik. Semuanya menghadirkan refleksi mendalam tentang kehidupan mahasiswa, bahkan kritik sosial yang dibungkus dalam bentuk seni. Tiap penampilan menghadirkan nuansa berbeda, namun semuanya berpadu dalam satu benang merah: semangat untuk berbicara melalui seni.
Seorang pengurus HIMASENI menuturkan, “Panggung Gembira adalah rumah bersama. Kami ingin memberi ruang kepada siapa pun yang ingin tampil, agar mahasiswa seni tidak kehilangan panggungnya di kampus. Ini bukan soal siapa yang paling hebat, tapi tentang bagaimana kita menjaga agar seni terus hidup.”

Dukungan dari dosen pembina HIMASENI dan pihak jurusan membuat suasana semakin hangat. Mereka hadir bukan hanya sebagai penonton, tetapi juga sebagai bagian dari keluarga besar yang mendorong mahasiswanya untuk terus berkembang. Bagi para dosen, kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa pembelajaran seni tidak bisa berhenti di ruang kelas. Seni butuh ruang nyata, interaksi, dan pengalaman langsung di hadapan audiens.
Lebih jauh, Panggung Gembira menjadi simbol dari upaya mahasiswa untuk merawat tradisi pertunjukan di lingkungan FKIP Untirta. Melalui kegiatan ini, mahasiswa belajar mengelola acara, bekerja sama lintas angkatan, hingga mengasah kepekaan artistik dan sosial. Dari proses persiapan hingga pementasan, setiap langkah adalah pembelajaran yang tak ternilai.
Akhirnya, ketika lampu panggung perlahan meredup dan acara ditutup dengan tepuk tangan panjang, tersisa perasaan hangat di hati semua yang hadir. Ada kebanggaan sekaligus keyakinan bahwa seni akan terus menemukan jalannya di kampus, selama masih ada semangat untuk berkumpul, berproses, dan berbagi.
Melalui Panggung Gembira, HIMASENI telah menunjukkan bahwa menjaga eksistensi panggung pertunjukan bukan sekadar wacana, melainkan sebuah gerakan nyata. Gerakan yang lahir dari mahasiswa, untuk mahasiswa, dan demi kehidupan seni yang terus tumbuh di FKIP Untirta.
Penulis: Dadang Dwi Septiyan









